Hadirnya tiada ku duga,
Terlalu indah namun janggal,
Lembaran duka kau tukar suka,
Ku harap kisah ini menebal,
Silap sesaat mengundang siksa,
terlewat suda merasa sesal.
Mata itu ditakdirkan melihat,
Terlalai ku hanya beberapa saat,
Menyangka diri ini hebat,
Murkanya tidak mampu ku sekat,
Mau mengelak tiada sempat,
Wajahnya mulai mengetat,
Aku semakin terhambat,
Misi menyelamat sudah terlambat.
Semuanya mulai punah,
Satu persatu rencana musnah,
Ingin jejak ke gugusan terindah,
Tak mungkin, bila dia tak endah,
Memanglah hati ini terasa patah,
Kerna silap sendiri ku terima padah.
Itulah seminggu terpanjang dalam hidupku,
Tiada dia, mereka, maupun kamu,
Gelap seminggu bagai kabusnya jerebu,
Bara digenggam menjadi abu,
Sampai dia mahu mencipta seteru,
Aku pujuk tak kenal jemu.
Syukur, kerna ada yang berkorban,
Demi menjaga sebuah perhubungan,
Aku tahu kau terluka dalam kesunyian,
Sungguh, aku mohon kemaafan,
Korbanmu akan tetap dalam ingatan,
Walau satu ketika ada yang harus dilepaskan,
Dia kini telah kembali,
Dan seminggu yang gelap kini ada mentari,
Namun, aku kesal ramai yang aku lukai,
Maafkanku tanpa kalian aku tak mampu berdiri,
Kuatkan aku agar mampu melawan hati,
Rasa ini tak pernah berhenti,
Rasa ini tetap misteri.
Namun, gelapnya seminggu itu tak mahu ku lalui lagi,
Mungkin ini takdir sepasang hati,
Tak mungkin kan mampu memiliki,
Namun rasa itu tetap disini,
Rasa yang kita kan bawa sampai mati,
-12.10.2015-
-Kingfisher Riverside-
No comments:
Post a Comment