Saturday, 25 February 2017

GST

Gemilang dijanji kian kabur,
Sengsara pula semakin subur,
Tepati janji dah jadi kubur.

Gelap sudah tiada cahaya,
Selamat sudah jadi bahaya,
Telah disiakan segala percaya,

Gentayangan semua mencari kerjaya,
Setelah dipecat secara raya,
Termakan berbagai tipu daya,

Galas derita secara paksa,
Sesal tersalah memberi kuasa,
Terkikislah semua tak tinggal sisa,

-istana bonda-
-26022017-

Friday, 24 February 2017

Hujan

Hujan melukis sebuah perpisahan.
Mengharus kepergian yang tak hati ikhlaskan.
Dalam kebasahan meneruskan perjalanan,
Mengharap pelangi dibalik titisan.

Hujan, tempat lari dari kegelisahan,
Tempat untuk menyembunyikan perasaan,
Ingin ku berjalan dalam deras hujan,
Agar tiada yang tahu ku dalam tangisan.

Untuk apa berteduh dikala hujan,
Bisiknya bagai candu kerinduan,
Tiap titisnya bagai tinta kenangan,
Gerimis mahupun lebatnya mencipta kesan,

Hidup ini bagaikan pelangi,
Yang perlu pada hujan dan mentari,
Saat kecewa menguasai diri,
Ingatlah, hujan jernih asalnya mendung sepi. 

-kereta mayat-
-24022017-

Monday, 20 February 2017

Cinta Dari Langit


 
Cinta dari langit,
Mencipta seribu bingit,
Bahagia lebih banyak menyelit,
Naluri kasih langsung terbit,
Menyembuh sejuta rasa sakit,
Dari keruntuhan kita bangkit,
Kini dah luas yang dulu sempit,
Kini dah banyak yang dulu sikit.


08-02-2017
-kantor KF-

Ku Lepaskan

Sedekad pun tak kan mampu menjanjikan pasti,
Segunung pun tak kan mampu memuaskan hati,
waktu telah pun menghakis perasaan itu,
waktu jua yang merawat kelukaan itu.

Andai tiada yang hitam,
Putih tak indah tersergam.

Ku lepaskan segalanya tuk kamu,
Walau berat kakiku melangkah dan hilang arah tuju,
Tak kan hilang ingatanku tuk kamu,
Walau mungkin aku kan terhapus dan luput dimamah waktu.

Kamu bukan kesilapan didalam hidupku,
Banyak kisah yang tercipta mengajarkan aku,
Kini nyata telah tertutup semua pintu,
Suatu saat akan tiba kita kan bertemu.

Berat rasa melepaskan,
Bertahan pun meluluhkan.

Bila menghilang yang hitam,
Putih kan indah tersergam,

Ku lepaskan segalanya tuk kamu,
Walau berat kakiku melangkah dan hilang arah tuju,
Tak kan hilang ingatanku tuk kamu,
Walau mungkin aku kan terhapus dan luput dimamah waktu.

Mesin Basuh Dan Bait-Bait Puitis.


















Mencipta lakaran damai pada sebuah pertalian,
Melestarikan indahnya sebuah impian,
Namun tak selalu rencana jadi kenyataan,
Dalam gerimis bertebaran kasih tak kesampaian.

Mencari-cari dalam cebisan kain lusuh,
Kain putih jika diluntur akhirnya rapuh,
Berselang bergumpal bagai merusuh,
Berputar harmoni dalam mesin basuh.

Bait-bait puitis merangsang indera,
Melapang fikiran yang penuh belantara,
Satu garisan halus yang kau berada diantara,
Pastinya hidup ini hanya sementara.

Berani untuk memilih berani untuk menghadapi,
Jalan itu tiada yang paksa untuk kau rentasi,
Apakah bukti seharusnya bersaksi,
Andai demikian apa erti wujudnya hati.

23. 9. 2015
-soapy laundry shop-

Tawar

Ingin kata hi, apa khabar,
Agar dapat memecah hambar,
Tapi hati selalu berpesan sabar,
Dan telah memilih memperbaharui lembar,
Jiwa ini bicara penuh sedar,
Jiwa ini tak pernah pudar,
Masih seperti dulu ia berdebar,
Dipukul badai pun ia tak gegar,

Seluruh halaman telah dipagar,
Apakah tujuan untuk menghindar,
Tak kelihatan ianya terlalu samar,
Bagai pokok sembunyi akar,
Bermusim lalu lembaran dilakar,
Hilang sekelip bagai terbakar,
Apakah menjadi pekara digemar,
Badai mendatang lembaran ditukar,

Alasan seribu alasan beredar,
Akhirnya menyalahkan qada’ dan qadar,
Luar gemerlapan bagaikan marmar,
Dalam tersembunyi terkunci kamar,
Kitar semula sampah disambar,
Mengisi sepi sekutum mawar,
Mendakap segera bila dilamar,
Hilanglah manis tinggallah tawar.

-21-01-2016-
-Santai Cafe-

Saudara


 










Semanis semerah buah epal,
Dikupas kulit isinya tebal,
Dulu diudara tangan dikepal,
Sama-sama menggengam medal,
Masa senang semua mengenal,
Masa diatas semua nak kekal,
Masa ditanya semua mengaku handal,
Segala prinsip ditanya hafal.

Bermusim ditatang dan dibelai,
Makan minum tak pernah diabai,
Walau susah, tetap disampai,
Walau diri hancur berderai,
Nampak seolah macam bersantai,
Walhal minda sudah terjuntai,
Jiwa rasa bagai dirantai,
Sedang mereka bercanda di pantai.

Berbumbung di mana dengan siapa,
Ungu tak lagi menjadi tinta,
Mudahnya berjanji sumpah setia,
Diuji sedikit, goyahlah jiwa,
Berganjak kaki melangkah segera,
Hilang genggaman, tinggalkan saudara,
Hidup bagaikan katak di muara,
Melompat tinggi sembunyi dusta.

Bahtera ini makin lesap dari nyata,
Nakhodanya suda kehabisan kata,
Hanya terus lihat melalui mata,
Kerna bicara suda tak bermakna,
Tak mungkin dihalang walau derita,
Tak mungkin dirayu walau terpaksa,
Walaupun berjuta ditaburkan jasa,
Bukan jaminan saudara selamanya.

17022016
-Kantor KF-

Cahaya

9 purnama engkau dinanti,
Terasa detik perlahan berganti,
Melakar lukisan tiada bertepi,
Menanti lahirmu memecah sepi,

Dah ada kesatria yang mewarisi,
Ku impi bunga yang bakal menghiasi,
Syukur ku panjat kehadrat ilahi,
Bunga hati Dia anugerahi,

Bumi mana tak ditimpa hujan,
Lautan mana tak berkocakan,
Bertalu-talu datang dugaan,
Hadirmu jadi sumber kekuatan,

222 terpanjang yang pernah kurasa,
Hanya berserah pada yang berkuasa,
Suara tangisan indah bak bidadari syurga,
Nur Fareesha Az Zehra, anugerah bercahaya.

-04032016-
-balkoni istana-

Tuesday, 7 February 2017

Bicara tanpa suara, Warkah tanpa tinta.

"Aku datang bawa senapang, senapang tanpa peluru, pena tanpa tinta, ku hunus keluar dari minda, sebagai santapan pancaindera."