Ingin kata hi, apa khabar,
Agar dapat memecah hambar,
Tapi hati selalu berpesan sabar,
Dan telah memilih memperbaharui lembar,
Jiwa ini bicara penuh sedar,
Jiwa ini tak pernah pudar,
Masih seperti dulu ia berdebar,
Dipukul badai pun ia tak gegar,
Seluruh halaman telah dipagar,
Apakah tujuan untuk menghindar,
Tak kelihatan ianya terlalu samar,
Bagai pokok sembunyi akar,
Bermusim lalu lembaran dilakar,
Hilang sekelip bagai terbakar,
Apakah menjadi pekara digemar,
Badai mendatang lembaran ditukar,
Alasan seribu alasan beredar,
Akhirnya menyalahkan qada’ dan qadar,
Luar gemerlapan bagaikan marmar,
Dalam tersembunyi terkunci kamar,
Kitar semula sampah disambar,
Mengisi sepi sekutum mawar,
Mendakap segera bila dilamar,
Hilanglah manis tinggallah tawar.
-21-01-2016-
-Santai Cafe-
Agar dapat memecah hambar,
Tapi hati selalu berpesan sabar,
Dan telah memilih memperbaharui lembar,
Jiwa ini bicara penuh sedar,
Jiwa ini tak pernah pudar,
Masih seperti dulu ia berdebar,
Dipukul badai pun ia tak gegar,
Seluruh halaman telah dipagar,
Apakah tujuan untuk menghindar,
Tak kelihatan ianya terlalu samar,
Bagai pokok sembunyi akar,
Bermusim lalu lembaran dilakar,
Hilang sekelip bagai terbakar,
Apakah menjadi pekara digemar,
Badai mendatang lembaran ditukar,
Alasan seribu alasan beredar,
Akhirnya menyalahkan qada’ dan qadar,
Luar gemerlapan bagaikan marmar,
Dalam tersembunyi terkunci kamar,
Kitar semula sampah disambar,
Mengisi sepi sekutum mawar,
Mendakap segera bila dilamar,
Hilanglah manis tinggallah tawar.
-21-01-2016-
-Santai Cafe-
No comments:
Post a Comment