Apa yang kau lakukan kini seluruh jiwa ku kau kerah,
Percayamu hanya pada imajimu yg membuat ini semua jd punah,
Bicaramu tiada yang pernah indah hanyalah yang tinggal sumpah seranah,
Yang pasti kau sedang rasa puas dan bahagia menabur fitnah.
Bagaimana harus aku mulai untuk menepis semua tuduhan liar,
Terkadang kata hati bicara tak payah lawan hanya teruskan biar,
Semahuku tepis dusta itu dan ingin ku jelas melalui seluruh mediaku siar.
Fitnahmu membunuh jiwa dan rasa tak bisa pulih walau gunung emas kau bayar,
Mujur tiada tindak tanduk yang ku ambil terburu,
Masih bernyawa mahligai ini kerna bicaraku bukan ringan menurut nafsu,
Bayangkan jika aku juga berkeras membalas tikaman lidah mu bertalu,
Pasti musnah lebur istana megah yang dibina separuh dekad yang lalu.
Maafkan aku, jika kau tanya aku semula tentang punca, jawabnya ada disini,
Punca itu selalu aku tepis, aku elak, aku tangkis dan aku lari dari,
Ku tak pinta kau berubah ku cuma rindu kau yang dulu, si peneman hati,
Semulalah kau jadi teman, jadi cinta, jadi pembantu, jadi si penyeri.
Campak jauh fitnah itu, semulalah kembali agar mahligai ini kembali utuh berdiri!
No comments:
Post a Comment