Monday, 6 March 2017

Merdekakah kita?

Duduk bersandar di pohon yang rimbun,
Persoalan diminda datang berhimpun,
Merenungkan ia muncul setiap tahun,
Harganya lebih dari harta karun.


Memang berat mendayung sampan,
Berjuang mengharap seribu harapan,
Dahulunya putih merah sebuah perjuangan,
Kininya cuma sebuah laungan.

Semangat berjuang tempuhi sengsara,
Agar anak cucu mampu senyum tertawa,
Dahulu laungannya melinang air mata,
Kini tinggal laungan tanpa jiwa.

Moyang lucutkan bendera penjajah durjana,
Kita pula bangga mengibarkanya dijiwa.
Apakah benar kita memahaminya?
Atau ia hanya tahunan punya acara.

Bertanyakan hati tentang erti merdeka,
Katanya bebas, tapi dari apa?
Adakah bebas dari penjajah semata,
Sedangkan minda dan jiwa masih diperkosa.

Merdeka, merdeka, merdeka bergema,
Sedangkan jiwa terbelenggu dan meronta,
Tercari-cari bebas dari apa,
Hanya memahami melalui makna kata.

Merdeka lebih dari sebuah suara,
Ianya kata yang punya roh dan jiwa,
Selagi budaya penjajah yang masih dipuja,
Erti merdeka masih jauh untuk terjumpa.

Hari merdeka bercuti umum,
Berlalu sahaja tanpa harum,
Mahu melaung faham pun belum,
Masih berpecah tiada tercantum.

Mulanya satu sekarang bertiga,
Bersatu dalam nama sebuah bangsa raya,
Tapi rasa benci masih membugar dijiwa,
Merdekakah kita?


-22082015-
-Kamar tidur-

No comments:

Post a Comment